Selasa, 17 Jul 2018, 10:15:18 WIB, 14082 View , Kategori : Pendidikan

Disdik Kota Jambi Bantah Angka Putus Sekolah di Kota Jambi Capai 293 Siswa

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Pengumuman Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SDN dan SMPN di Kota Jambi, Rabu (11/7), diwarnai protes. Berdasarkan data, dari 10.862 siswa yang lulus SD, hanya 4.386 siswa yang diterima di SMP Negeri. Selebihnya, 6.476 tidak bisa tertampung di sekolah negeri dan melanjutkan ke swasta.

Banyak orang tua yang protes, karena anaknya tak tertampung di sekolah negeri. Mereka pun mendatangi Dinas Pendidikan Kota Jambi, kemarin Sore. Pantauan Jambi Independent, puluhan orang tua siswa termasuk calon siswa, ikut mendatangi Dinas Pendidikan.

Mereka protes tidak tertampung di sekolah negeri. Padahal menurut mereka, jarak dari rumah dengan sekolah yang dituju tidak jauh. Beberapa di antaranya berasal dari SMPN 22, SMPN 19, SMPN 5 dan SMPN 17.

Fajar, warga Kelurahan Pasir Putih, mendaftarkan anaknya ke SMPN 6 Kota Jambi. Menurutnya, anaknya tidak lulus, padahal lokasi rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Sementara, ada orang lain yang bertempat tinggal bahkan di Kawasan Thehok, bisa lulus.

“Ini yang kita pertanyakan. Masa rumah saya lebih dekat sekolah tidak lulus, yang lebih jauh malah lulus,” bebernya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh orang tua siswa yang mendaftar di SMPN 22 Kota Jambi. Menurutnya, anaknya tidak lulus, sedangkan tetangganya lulus. Padahal jarak rumahnya dan tetangganya sangat dekat. “Banyak juga yang seperti kami permasalahannya. Kami di kawasan yang sama. Masa beda perlakuannya. Ada yang lulus dan ada yang tidak,” bebernya.

Yayan, orang tua siswa yang mendaftar di SPMN 22, yang mempertanyakan sistem zonasi. “Paling jarak rumah ke sekolah cuma 500 meter, tapi saat pendaftaran jaraknya kok dibuat 1.500 meter. Kita minta kejelasan ini,” sebutnya.

Menanggapi hal ini, Arman, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi mempersilahkan satu per satu orang tua siswa, mengungkapkan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Rata-rata permasalahan sama.

Menanggapi hal ini, Arman mengatakan bahwa jika memang terjadi ada siswa yang tidak lulus padahal rumahnya dekat sekolah, namun ada yang jauh dari sekolah malah lulus, maka pihaknya akan mendata dan memferifikasi ulang data siswa.

Seluruh data siswa yang bermasalah didata. Kemudian diferifikasi. Jika memang kondisi sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan, maka dinas Pendidikan Kota Jambi menjamin siswa tersebut akan diterima di sekolah yang dimaksud.

“Kita kumpulkan data, nanti tim kita akan bergerak ke lokasi bahkan akan kita temui ketua RT nya. Apakah benar atau tidak mereka bertempat tinggal di dekat sekolah. Kalau benar, kita pastikan anak tersebut akan diterima di sekolah yang bersangkutan,” bebernya.

Lalu, mengapa bisa terjadi kesalahan? Dikatakan Arman bahwa ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Seperti masih ada beberapa masyarakat yang belum memahami sistem zonasi. Sebab, sistem ini baru diaplikasikan. Penyebab lainnya adanya kesalahan petugas dalam menginput data dan menentukan titik lokasi.

“Penyebab lainnya juga bisa jadi orang tua yang salah dalam menentukan titik zonasi. Sebab, dalam memilih sekolah, harus benar-benar diperhatikan sekolah mana yang paling dekat dengan rumah. Jika ada dua sekolah yang dekat, itu pun juga benar benar harus diperhitungkan sekolah terdekat. Sehingga tidak salah pilih karena pilihannya hanya boleh memilih satu sekolah. Hal seperti ini sudah kita prediksikan terjadi karena masih banyak orang tua yang belum memahami sistem zonasi ini,” bebernya.

Arman memastikan bahwa siswa yang bertempat tinggal di dekat sekolah namun tidak lulus, akan diakomodir. “Intinya sistem tidak salah, ada kemungkinan kesalahan data atau petugas menentukan titik zonasi. Kami siap akomodir sepanjang ada kesalahan entri data atau wali murid salah membuat alamat. Semua akan kita akomodir. Jika benar cuma salah isi, akan kita tampung. Namun juga harus dilihat dulu kebenarannya,” bebernya.

Kata dia, ada yang memprotes bahwa ada siswa yang rumahnya jauh dari sekolah namun diterima, bisa jadi karena anak tersebut menggunakan jalur prestasi. Sebab, siswa yang berprestasi diberikan kebebasan memilih.

Dikatakan Arman, untuk siswa lain yang tidak tertampung di sekolah negeri, bisa langsung mendaftar di sekolah swasta. Atau pilihan lainnya bisa menunggu beberapa sekolah yang masih kekurangan kuota. Ada beberapa sekolah belum cukup kuotanya. Seperti SMPN 23, SMPN 20, SMPN 13 dan SMPN 3.

“Namun kita harus menunggu batas akhir pendaftaran ulang dulu. Kadang ada beberapa siswa yang lulus di satu sekolah, mamun mereka tidak jadi memilih sekolah tersebut dan tidak daftar ulang. Sehingga masih ada kuota yang tersisa. Jika itu terjadi, maka nanti akan kita umumkan kembali berapa kekurangan kuotanya. Masyarakat bisa mendaftar langsung ke sekolah tersebut nanti. Ini tidak berlaku lagi aturan PPDB. Siapa yang dulu, dari luar daerah juga bisa daftar. Siapa yang duluan daftar, dia dapat,” bebernya.

Arman mengaku di SMPN 22 Kota Jambi memang sedikit bermasalah, karena di kawasan Alam Barajo tersebut penduduknya cukup banyak. “Kita sudah koordinasikan dengan kepala sekolah untuk penambahan rombel. Aturan yang berlaku boleh 11 rombel, tapi disana baru 9 rombel, kemungkinan kita tambah 2 kelas. Sebab ada sekitar 60 warga sekitar belum tertampung di sana. Bisa nanti kita buat double shift, mungkin ada yang masuk agak siang. Itu pun sifatnya sementara, karena 2019 kita akan ada penambah ruang kelas baru,” bebernya. (viz/muz/ira/rib)





Tuliskan Komentar